Pasar Sepi, Pemkab Bantul Coba Dua Jurus! ASN dan Rumah Hantu
Pasar tradisional di Bantul sedang menghadapi persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan membuat promosi atau menambah kegiatan.
Kunjungan dan omzet pasar tradisional di Bantul disebut turun sekitar 30 persen. Saat belanja online dan toko modern terus mengubah kebiasaan warga, Pemkab mencoba menghidupkan pasar dengan dua cara yang tidak biasa, mewajibkan ASN belanja dan membuka rumah hantu.
Kunjungan dan omzet disebut turun sekitar 30 persen, sementara sejumlah pedagang Pasar Bantul mengaku bisa berjualan sejak pagi hingga sore tanpa mendapatkan pembeli.
Perubahan kebiasaan belanja menjadi salah satu penyebabnya. Masyarakat kini punya lebih banyak pilihan, mulai dari belanja online, toko kelontong modern yang buka 24 jam, sampai pedagang keliling yang datang langsung ke permukiman.
Masalahnya, ketika pembeli tidak lagi perlu datang ke pasar, pedagang kehilangan bukan cuma transaksi, tetapi juga alasan bagi orang untuk tetap menjadikan pasar sebagai tempat belanja.
Pemkab Bantul kini mencoba menarik kembali perputaran uang ke pasar tradisional lewat kebijakan yang cukup berbeda dari biasanya. ASN di lingkungan Pemkab Bantul didorong bahkan diwajibkan berbelanja di pasar tradisional setidaknya sebulan sekali.
Kebijakan itu menyasar ribuan ASN. Harapannya sederhana, uang yang biasanya dibelanjakan di tempat lain bisa kembali masuk ke pasar dan langsung diterima pedagang lokal.
Tetapi Pemkab Bantul tidak berhenti pada urusan belanja. Lantai dua Pasar Bantul yang selama ini sepi juga akan dimanfaatkan untuk wahana hiburan berupa rumah hantu atau rumah pocong.
Cara berpikirnya berbeda. Orang mungkin tidak datang ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari, tetapi bisa saja datang karena ingin mencoba wahana hiburan. Setelah berada di pasar, mereka diharapkan ikut membeli makanan, jajanan atau kebutuhan lain dari pedagang.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Bantul Fenty Yusdayati mengatakan penurunan kunjungan pasar berkaitan dengan persaingan dari toko modern dan belanja online. Karena itu, pemerintah mencari cara lain agar pasar kembali memiliki daya tarik.
Namun ada persoalan yang tidak otomatis selesai hanya dengan mendatangkan orang ke pasar.
Ramainya pengunjung belum tentu berarti meningkatnya transaksi pedagang. Orang bisa datang untuk melihat wahana, lalu pulang tanpa membeli barang di pasar. Karena itu, keberhasilan strategi tersebut pada akhirnya tetap bergantung pada apakah arus pengunjung benar-benar berubah menjadi perputaran uang bagi pedagang.
Keluhan pedagang menunjukkan persoalan itu sudah terasa di lapangan. Siamti dan Eva, pedagang Pasar Bantul, mengaku pembeli semakin sulit ditemukan, bahkan ketika mereka sudah membuka lapak sejak pagi.
Kondisi lantai dua menjadi salah satu gambaran paling jelas. Area yang seharusnya menjadi ruang perdagangan justru membutuhkan alasan baru agar orang mau datang.
Di sisi lain, kebijakan belanja ASN juga memiliki pertanyaan yang berbeda. Kebijakan itu bisa menciptakan tambahan transaksi, tetapi belum menjawab mengapa masyarakat umum meninggalkan pasar sejak awal.
Kepala DKUKMPP Kabupaten Bantul Prapta Nugraha mengatakan gerakan belanja ASN diarahkan sebagai bentuk dukungan langsung kepada pedagang kecil. ASN didorong menjadi pelopor dengan rutin membeli kebutuhan harian di pasar tradisional.
Dua strategi itu akhirnya memperlihatkan persoalan yang lebih besar. Pemkab Bantul bukan hanya sedang mencari cara membuat pasar ramai, tetapi juga mencoba mencari kembali fungsi pasar tradisional di tengah perubahan cara masyarakat berbelanja.
Rumah hantu mungkin bisa membawa orang masuk ke pasar. ASN mungkin bisa membawa transaksi tambahan setiap bulan. Tetapi apakah keduanya cukup untuk membuat warga kembali menjadikan pasar sebagai tempat belanja sehari-hari, masih harus dibuktikan.
Sebab persoalan Pasar Bantul bukan sekadar bagaimana mendatangkan orang. Tapi bagaimana membuat mereka kembali datang, berbelanja, dan punya alasan untuk datang lagi.
