Puluhan Siswa dan Guru Bantul Tumbang Usai Makan MBG Berbakteri
Hasil uji laboratorium Dinas Kesehatan Bantul menemukan bakteri patogen Bacillus sp pada sampel galantin dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi siswa SDN 1 Sumberagung, Jetis.
Uji laboratorium Dinkes Bantul menemukan Bacillus sp pada sampel galantin setelah 50 siswa dan tiga guru SDN 1 Sumberagung, Jetis, mengalami dugaan keracunan makanan.
Temuan itu muncul setelah 50 siswa dan tiga guru mengalami dugaan keracunan makanan. Sampel makanan kemudian diperiksa untuk mencari penyebab munculnya keluhan kesehatan setelah konsumsi menu MBG.
Bakteri tersebut ditemukan pada olahan galantin. Temuan ini mempersempit persoalan dari sekadar dugaan keracunan menjadi persoalan pada proses pengolahan atau penanganan makanan yang perlu diperiksa lebih jauh.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Samsu Aryanto, menyebut keberadaan Bacillus sp dapat berkaitan dengan proses pengolahan makanan yang tidak memenuhi standar keamanan pangan.
Risikonya antara lain muncul ketika makanan tidak matang secara merata, terlalu lama berada pada suhu ruang, atau terjadi kontaminasi silang antara bahan mentah dan makanan yang sudah matang.
Artinya, persoalannya tidak berhenti pada apa yang dimakan para siswa hari itu. Ada rangkaian proses sebelum makanan sampai ke sekolah yang ikut menentukan apakah makanan tersebut aman dikonsumsi.
Dinas Kesehatan Bantul kemudian melakukan inspeksi kesehatan lingkungan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan tersebut. Operasional SPPG juga dihentikan sementara.
Salah satu rekomendasi yang diberikan adalah memisahkan jalur pengolahan bahan makanan mentah dengan makanan matang. Pemisahan ini penting untuk mencegah kontaminasi silang selama proses produksi.
Temuan Bacillus sp sendiri belum otomatis menjelaskan seluruh rangkaian kejadian. Yang ditunjukkan hasil laboratorium adalah adanya bakteri pada sampel galantin, sementara bagaimana bakteri tersebut masuk dan berkembang dalam makanan menjadi bagian penting yang perlu dilihat dari proses pengolahannya.
Kasus ini memperlihatkan satu titik rawan dalam program MBG yang sering tidak terlihat dari piring yang sudah sampai di sekolah. Makanan bisa terlihat normal ketika dibagikan, tetapi keamanan pangan ditentukan jauh sebelum makanan tersebut dimakan.
Karena itu, penghentian sementara operasional SPPG dan rekomendasi perbaikan proses pengolahan menjadi bagian penting dari tindak lanjut kasus ini. Persoalan berikutnya adalah memastikan perbaikan tersebut benar-benar diterapkan sebelum distribusi makanan kembali berjalan.
Untuk kasus di SDN 1 Sumberagung, hasil laboratorium sudah memberikan satu petunjuk penting: Bacillus sp ditemukan pada galantin yang diperiksa. Namun, memastikan titik terjadinya kontaminasi tetap membutuhkan penelusuran terhadap seluruh rantai pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan.
