Bantul Mau Surplus 100 Ribu Ton Beras, Konsumsi Nasi Malah Turun
Bantul menargetkan surplus produksi beras mencapai 100 ribu ton pada 2026. Target itu dikejar dengan menambah luas tanam padi sampai 35 ribu hektare, setelah tahun lalu Bantul mencatat surplus sekitar 70 ribu ton.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul Joko Waliyo bilang, luas tanam padi pada 2025 sudah mencapai sekitar 32 ribu hektare. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan capaian tahun-tahun sebelumnya.
Tahun ini targetnya dinaikkan lagi menjadi 35 ribu hektare. Joko optimistis target tersebut bisa tercapai karena realisasi luas tanam sampai semester I 2026 sudah cukup tinggi, meski dia tidak menyebut angka pastinya.
Supaya produksi makin tinggi, petani diminta memperpendek jeda tanam setelah panen. Kalau biasanya petani menunggu sekitar sebulan sebelum menanam lagi, jedanya diharapkan bisa dipangkas menjadi 15 sampai 20 hari.
Ada hal lain yang cukup menarik. Saat produksi padi justru digenjot, konsumsi beras masyarakat Bantul malah disebut terus turun.
Joko mencatat konsumsi beras masyarakat yang dulu sekitar 84 kilogram per kapita per tahun kini turun menjadi 62,54 kilogram. Menurut dia, perubahan ini kemungkinan dipengaruhi pola konsumsi masyarakat yang mulai beralih ke sumber karbohidrat lain.
Umbi-umbian dan sorgum mulai dipilih sebagian masyarakat sebagai alternatif nasi. Faktor kesehatan juga disebut ikut berpengaruh, termasuk warga yang mengurangi konsumsi nasi karena diabetes.
Jadi, Bantul sekarang menghadapi dua tren sekaligus: produksi beras terus digenjot, sementara kebutuhan masyarakat terhadap beras justru makin rendah. Kondisi ini menjadi salah satu alasan Pemkab Bantul tetap optimistis target surplus 100 ribu ton bisa dikejar tahun ini.
