Saat Semua Serba Digital, Anak-anak di Bantul Masih Datang Cari Buku
Gawai memang makin nggak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Setelah pandemi, aktivitas belajar sampai mencari informasi banyak berpindah ke dunia digital. Tapi di Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bantul, buku ternyata belum benar-benar ditinggalkan.
Pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bantul, Kristiyani, bilang perubahan kebiasaan masyarakat setelah pandemi memang terasa. Anak muda sekarang lebih akrab dengan gawai karena proses belajar dan mencari informasi juga makin bergantung pada teknologi digital.
Meski begitu, minat datang ke perpustakaan masih ada. Kristiyani melihat cukup banyak masyarakat yang tetap memanfaatkan ruang perpustakaan, terutama pada akhir pekan. Bahkan, Sabtu menjadi salah satu hari yang ramai karena banyak orang tua datang membawa anak-anaknya.
Karena itu, perpustakaan nggak lagi cuma mengandalkan koleksi buku untuk menarik pengunjung. Ruang baca dibuat supaya nyaman dipakai berbagai kalangan, mulai dari pelajar dan anak muda sampai masyarakat umum yang ingin membaca, belajar, berdiskusi, atau sekadar menghabiskan waktu.
Fasilitas digital juga ikut disediakan. Masyarakat bisa menggunakan akses internet gratis sambil tetap berada di lingkungan yang punya koleksi buku dan ruang baca.
Menurut Kristiyani, mengenalkan perpustakaan kepada anak muda juga nggak harus selalu dimulai dengan menyuruh mereka membaca. Justru, membuat mereka merasa nyaman dulu bisa menjadi jalan masuk untuk mengenalkan dunia literasi.
Dari situ, anak-anak dan generasi muda bisa melihat perpustakaan dengan cara yang berbeda. Bukan lagi tempat yang kaku dan cuma berisi rak buku, tapi ruang yang bisa dipakai untuk belajar sekaligus melakukan aktivitas positif.
Upaya ini menjadi cara Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bantul menghadapi perubahan kebiasaan masyarakat di era digital. Gawai tetap ada, internet tetap dipakai, tapi buku dan perpustakaan nggak harus ditinggalkan begitu saja.
